Tebarkan Salam

Dr. Andi Aladin, MT. (Kolumnis Harian Amanah, Dosen PPs UMI)

(Bagian I)  Kata ‘salam’ berasal dari akar kata “salima – yaslamu – salaaman – salaamatan ”, artinya: selamat, sejahtera, damai, sentosa, tenteram,  sapaan yang menyenangkan, dll.  Demikian dalam ma’na salam ini sehingga Rasulullah SAW. dalam sebuah hadits shahih memerintahkan : Tebarkanlah salam di antara kalian !  Beliaupun saw telah mengajarkan do’a salam dengan tiga tingkatan lafadz, yaitu mulai dari salam minimalis (tingkat pertama) dengan lafadz “asalamu alaikum”, kemudian salam standar (tingkat kedua) dengan lafadz “assalamu alaikum warahmatullah” hingga salam yang paripurna (tingkat ketiga) dengan lafadz “assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh”.

Rasulullah saw pun mengajarkan cara menjawab salam kepada kita yang menerima doa salam seperti di atas dengan tiga tingkatan pula. Untuk salam tingkatan pertama, maka jawaban minimalisnya adalah “wa’alaikum salam”, atau jawaban sempurnahnya adalah “wa’alaikum salam warahmatullah”. Untuk salam tingkatan kedua, maka jawaban salam minimalisnya adalah “wa’alaikum salam warahmatullah” atau jawaban sempurnanya adalah “wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh”. Sedangkan untuk salam tingkat ketiga, maka jawaban minimalisnya adalah “wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh” atau jawaban yang lebih sempurna lagi adalah “wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh wamagfirah”.

Walaupun mengucapkan salam kepada sesama muslim adalah sunnah yang sangat dianjurkan, tetapi menjawabnya adalah wajib  seperti tersurat dalam QS. An-Nisaa’; 86. Prinsip Menjawab salam hendaknya dengan cara yang lebih baik  (lebih sempurna) dari salam pertama atau minimal sama dengan salam pertama tersebut. Seperti disebut lafadz salam di atas, ada tiga jenis tingkatan lafazh salam dan ada empat jenis tingkatan lafazh jawaban salam (HSR. Bukhari). Dengan demikian tidak benar ketika seseorang muslim memberi salam tingkat ketiga, lantas kita membalasnya dengan salam tingkat kedua atau pertama. Dan lebih salah lagi ketika kita diberikan salam lantas tidak menjawabnya.

Salam tersebut tidak terbatas dalam arti sempit, sekedar formalitas mengucapkan  do’a salam, tetapi pun secara tersirat akan memberi makna yang lebih luas yang pada intinya bagaimana  kita   senantiasa berperilaku yang  dapat menyenangkan dan menyelamatkan orang lain lahir-batin, dunia-akhirat. Termasuk misalnya kita tidak dibenarkan bersifat egois, yang hanya mementingkan kesenangan dan keselamatan diri sendiri sementara orang lain, dengan perilaku kita menyebabkan mereka tidak nyaman, menderita  bahkan terancam keselamatannya baik secara langsung ataupun tidak. Wallahu wa’lam. 

============================================================

(Bagian II): Ditegaskan oleh Rasulullah SAW. bahwa:”Sekikir-kikirnya manusia, ialah orang yang kikir dengan salam.”  Menebarkan salam termasuk perilaku akhlaq yang mulia, merupakan salah satu minhaju hayaat yang harus dibangun (dibina’), sebagaimana sabda Rasulullah SAW.: bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia. Apalikasi salam dalam kehidupan sehari-hari, Nabi Muhammad SAW sangat baik terhadap tetangganya,  senantiasa memperhatikan kebutuhan-kebutuhannya, sering memberikan hadiah makanan, sekalipun dengan membanyakkan  kuahnya. Beliau SAW pun bersabda : Tidak beriman seseorang di antara kamu, manakala tetangganya kelaparan, sedang ia dalam keadaan kenyang .

Seperti telah diuraikan bagian I tulisan ini, bahwa doa salam tentu tidak terbatas dalam arti sempit,  sekedar formalitas mengucapkan  do’a salam, tetapi pun secara tersirat akan memberi makna yang lebih luas yang pada intinya bagaimana  kita   senantiasa berperilaku yang  dapat menyenangkan dan menyelamatkan orang lain lahir-batin, dunia-akhirat. Doa salam bermakna agar kita tidak bersifat egois, yang hanya mementingkan kesenangan dan keselamatan diri sendiri sementara orang lain, dengan perilaku kita menyebabkan mereka tidak nyaman, menderita  bahkan terancam keselamatannya baik secara langsung ataupun tidak.  Doa salam mengajarkan kita agar tidak bersenang-senang di atas penderitaan orang lain.

Contoh sederhana yang  sering dianggap sepele, bahwa ada di antara kita  demi memenuhi kesenangan pribadi, kita sering merokok  di tempat-tempat umum tanpa  peduli ketidaksenangan  orang lain terhadap bau (asap) rokok yang kita cemarkan,  bahkan dapat mengancam kesehatan orang tersebut.  Kalau saja kita memahami  ma’na salam secara luas dan menyadari pentingnya menebarkan salam maka sudah tentu kita tidak akan  merokok di sembarang tempat yang dapat merugikan orang lain, menganggu kesenangan orang lain. Sekali lagi Islam tidak menghalalkan kita bersenang-senang di atas penderitaan orang lain.

Makna salam yang lebih hakiki adalah keselamatan dunia-akhirat, kebahagiaan lahir batin. Hal ini hanya tercapai dengan jalan mengamalkan Islam secara kaffah (total). Dengan demikian menebarkan salam secara luas adalah mengajak dan mengajarkan Islam secara sempurna. Ringkasnya: tebarkan salam artinya tebarkan  (ajarkan) Islam. Wallahu wa’lam.

 

(Artikel termuat di kolom Tersirat – Harian Amanah 2017)

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *